Pernah melihat sebuah video produk yang awalnya hanya muncul di satu akun, tetapi beberapa hari kemudian muncul di TikTok, Instagram, WhatsApp, bahkan dibicarakan oleh banyak orang? Fenomena seperti ini sering membuat brand mendapatkan perhatian besar tanpa harus terus-menerus membayar untuk setiap orang yang melihat kontennya.

Di sinilah viral marketing menjadi menarik untuk dipahami.
Namun, viral marketing bukan sekadar membuat konten yang mendapatkan jutaan views. Ada strategi di balik bagaimana sebuah pesan dibuat agar menarik perhatian, dibagikan, dan menyebar dari satu orang ke orang lainnya.
Menurut penelitian dalam Psychology & Marketing, viral marketing berhubungan dengan proses ketika seseorang menerima sebuah konten, memutuskan untuk melihatnya, kemudian menentukan apakah ingin berinteraksi atau menyebarkannya. Faktor seperti karakteristik konten, kondisi penyebaran, dan tujuan pengguna dapat memengaruhi proses tersebut.
Apa Itu Viral Marketing?
Viral marketing adalah strategi pemasaran yang memanfaatkan penyebaran pesan dari orang ke orang melalui jaringan, terutama melalui platform digital dan media sosial.
Konsepnya mirip dengan penyebaran informasi secara berantai. Brand membuat suatu pesan atau konten, kemudian audiens membagikannya kepada orang lain. Orang yang menerima konten tersebut dapat kembali membagikannya sehingga jangkauan pesan berkembang semakin luas.
Karena proses tersebut banyak terjadi melalui media sosial, viral marketing sering dikaitkan dengan electronic word of mouth atau e-WOM. Namun, keduanya tidak sepenuhnya sama. Viral marketing lebih menekankan pada strategi untuk mendorong penyebaran pesan, sedangkan e-WOM dapat terjadi secara lebih spontan berdasarkan pengalaman konsumen.
Apakah Semua Konten Viral Termasuk Viral Marketing?
Tidak.
Sebuah video bisa viral karena lucu, kontroversial, menghibur, atau terjadi secara tidak sengaja. Konten tersebut belum tentu memiliki tujuan pemasaran.
Viral marketing biasanya memiliki tujuan yang lebih jelas, misalnya:
- meningkatkan brand awareness;
- memperkenalkan produk;
- meningkatkan engagement;
- mendapatkan traffic;
- menghasilkan leads;
- mendorong pembelian.
Jadi, viral bukan tujuan akhir. Viral seharusnya menjadi bagian dari strategi marketing.
Bagaimana Cara Kerja Viral Marketing?
Secara sederhana, alurnya dapat digambarkan seperti ini:
Brand → membuat konten → audiens melihat → audiens tertarik → audiens membagikan → orang lain melihat → konten kembali dibagikan → jangkauan semakin luas.
Masalahnya, tidak semua konten akan melewati seluruh tahapan tersebut.
Audiens memiliki alasan sendiri untuk membagikan sebuah konten. Bisa karena kontennya lucu, informatif, menginspirasi, relevan dengan pengalaman mereka, atau membuat mereka ingin menunjukkan sesuatu kepada teman dan komunitasnya.
Karena itu, membuat konten viral tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan.
7 Strategi Viral Marketing yang Bisa Dicoba
1. Buat Konten yang Punya Alasan untuk Dibagikan
Pertanyaan sederhana yang perlu dipikirkan marketer adalah:
“Mengapa orang mau membagikan konten ini?”
Konten yang memiliki potensi dibagikan biasanya memberikan sesuatu kepada audiens, misalnya hiburan, informasi, inspirasi, atau pengalaman yang terasa relatable.
Contohnya, UMKM makanan dapat membuat video “ekspektasi vs realita” ketika pelanggan mencoba makanan super pedas. Konten tersebut tidak hanya memperlihatkan produk, tetapi juga memberikan unsur hiburan.
2. Manfaatkan Tren dengan Tetap Relevan
TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membuat tren dapat menyebar dengan sangat cepat.
Brand bisa memanfaatkan:
- audio yang sedang populer;
- meme;
- challenge;
- format video;
- topik yang sedang ramai.
Tetapi jangan sekadar ikut-ikutan.
Tren harus tetap sesuai dengan karakter brand. Menggunakan tren yang tidak relevan justru bisa membuat konten terlihat dipaksakan.
3. Gunakan Storytelling yang Relatable
Orang tidak selalu tertarik dengan promosi yang terlalu langsung. Terkadang mereka lebih tertarik pada cerita di balik sebuah produk.
Misalnya, sebuah UMKM kopi menceritakan perjalanan pemiliknya yang awalnya hanya menjual beberapa gelas kopi dari rumah hingga akhirnya memiliki kedai kecil.
Cerita seperti ini membuat produk memiliki konteks dan sisi manusiawi.
Storytelling juga dapat membantu brand membangun hubungan emosional dengan audiens, bukan sekadar menyampaikan informasi mengenai produk.
4. Buat Konten yang Mudah Dikembangkan Audiens
Salah satu cara membuat konten memiliki potensi menyebar adalah memberikan ruang bagi audiens untuk ikut berpartisipasi.
Contohnya:
- challenge;
- template;
- meme;
- hashtag campaign;
- pertanyaan;
- format before-after;
- sound yang dapat digunakan kembali.
Semakin mudah audiens membuat versi mereka sendiri, semakin besar peluang munculnya konten turunan.
Dalam penelitian tentang viral marketing di media sosial, faktor seperti spreadability dan propagativity menjadi bagian dari kerangka untuk memahami bagaimana sebuah campaign dapat menyebar.
5. Manfaatkan Creator dan Micro-Influencer
Viral marketing tidak selalu harus dimulai dari akun brand.
Brand juga dapat bekerja sama dengan creator yang memiliki audiens sesuai dengan target pasar.
Misalnya, UMKM skincare tidak harus langsung bekerja sama dengan influencer dengan jutaan followers. Creator dengan komunitas yang lebih kecil tetapi relevan bisa menjadi pilihan untuk memperkenalkan produk.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah followers, tetapi juga:
- relevansi audiens;
- engagement;
- niche;
- gaya komunikasi;
- kredibilitas;
- kesesuaian dengan brand.
6. Dorong User-Generated Content
User-generated content (UGC) adalah konten yang dibuat oleh pelanggan atau pengguna, bukan langsung oleh brand.
Contohnya, pelanggan membeli produk kemudian membuat video review, tutorial, unboxing, atau pengalaman menggunakan produk tersebut.
UGC menarik karena brand tidak menjadi satu-satunya pihak yang berbicara tentang produknya. Audiens lain juga dapat melihat pengalaman pengguna.
Namun, jangan memaksa pelanggan memberikan review positif. Pengalaman yang autentik jauh lebih berharga daripada testimoni yang terasa dibuat-buat.
7. Sebarkan Konten ke Beberapa Channel
Jangan menganggap satu konten hanya bisa digunakan di satu platform.
Sebuah video dapat dikembangkan menjadi:
TikTok → Instagram Reels → YouTube Shorts → WhatsApp → artikel website.
Namun, bukan berarti konten harus di-copy-paste secara mentah.
Setiap platform memiliki karakteristik dan perilaku audiens yang berbeda. Strategi distribusi sebaiknya menyesuaikan format dan konteks masing-masing platform.
Pendekatan multi-channel juga sejalan dengan praktik strategi media sosial modern yang menghubungkan konten dengan tujuan dan KPI masing-masing platform.
Contoh Viral Marketing untuk UMKM
Bayangkan sebuah UMKM minuman ingin memperkenalkan varian rasa baru.
Alih-alih hanya mengunggah foto produk dengan tulisan “produk baru”, mereka membuat campaign:
“Tebak Rasa Rahasia Kami.”
Video pertama hanya menunjukkan proses pembuatan tanpa menyebutkan rasa. Audiens kemudian diminta menebak di kolom komentar.
Setelah banyak komentar masuk, brand membuat video lanjutan yang membahas jawaban audiens. Beberapa pelanggan kemudian ikut membuat video versi mereka.
Dari satu konten, akhirnya muncul beberapa konten turunan.
Ini memang tidak menjamin campaign akan viral. Namun, mekanismenya memberikan alasan kepada audiens untuk berinteraksi dan berpartisipasi.
Manfaat Viral Marketing untuk Bisnis
Jika berhasil, viral marketing dapat membantu:
- meningkatkan brand awareness;
- memperluas jangkauan;
- meningkatkan engagement;
- mendatangkan traffic;
- meningkatkan pembicaraan mengenai brand;
- mendapatkan audiens baru;
- berpotensi menghasilkan leads dan penjualan.
Tetapi penting untuk tidak menyamakan viralitas dengan keberhasilan bisnis.
Konten dengan satu juta views belum tentu lebih bernilai daripada konten dengan 100 ribu views jika konten kedua menghasilkan lebih banyak leads atau pembelian.
Kelebihan dan Kekurangan Viral Marketing
| Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|
| Potensi jangkauan sangat luas | Tidak mudah diprediksi |
| Dapat meningkatkan awareness | Respons negatif juga dapat menyebar |
| Mendorong engagement | Brand tidak sepenuhnya mengontrol penyebaran |
| Berpotensi memperluas audiens | Tidak selalu menghasilkan penjualan |
| Dapat menciptakan pembicaraan tentang brand | Konten viral biasanya memiliki siklus perhatian yang pendek |
Literatur mengenai viral marketing juga menyoroti sisi lain dari strategi ini: penyebaran yang cepat dapat menjadi keuntungan, tetapi marketer memiliki keterbatasan dalam mengontrol bagaimana pesan berkembang setelah berada di tangan audiens.
Bagaimana Mengukur Keberhasilan Viral Marketing?
Jangan hanya melihat views.
Beberapa metrik yang dapat digunakan adalah:
- Reach.
- Views.
- Shares.
- Comments.
- Engagement rate.
- Brand mentions.
- Website traffic.
- Leads.
- Conversion rate.
- Sales.
KPI yang dipilih sebaiknya mengikuti tujuan campaign.
Jika tujuannya awareness, reach dan brand mentions mungkin lebih relevan. Jika tujuannya penjualan, conversion dan revenue menjadi lebih penting.
Kesimpulan Viral marketing
Viral marketing bukan sekadar mengejar konten yang ramai. Strategi ini memanfaatkan kemauan audiens untuk menyebarkan pesan sehingga brand dapat menjangkau lebih banyak orang melalui jaringan sosial mereka.
Website resmi: Viral marketing
Kunci utamanya bukan mencari “trik agar pasti viral”, karena tidak ada formula yang dapat menjamin hal tersebut. Yang lebih penting adalah membuat konten yang memiliki alasan untuk dibagikan, relevan dengan audiens, mudah diikuti, dan tetap terhubung dengan tujuan bisnis.
Bagi UMKM dan bisnis online, pendekatan ini bisa dimulai dari hal sederhana. Tidak harus langsung membuat campaign besar. Mulailah dengan memahami audiens, mencoba beberapa format konten, melihat data, kemudian mengembangkan konten yang mendapatkan respons paling baik.
Rekomendasi Produk & Layanan Pilihan
Kembangkan bisnis Anda lebih cepat dengan tools otomasi AI, template digital teruji, dan layanan profesional langsung dari Thesky.
Thesky Auto SEO Writer Pro: WordPress AI Content & SEO Automation Plugin
Plugin WordPress AI cerdas untuk menulis, mengoptimasi, dan mempublikasikan ratusan artikel SEO pilar 2.500+ kata secara otomatis langsung ke dashboard WordPress Anda. Sekali bayar, lisensi UNLIMITED websites seumur hidup!
Thesky Studio: AI Script & Content Generator Shopee Affiliates
Tools web app otomatis untuk riset tren viral dan memproduksi ribuan naskah review Shopee Affiliate berkonversi tinggi dengan formula copywriting psikologis.
Template Digital Marketing Growth Kit & Funnel Playbook
Blueprint lengkap pelacak KPI Funnel, formula penyusunan Value Proposition & USP, serta panduan optimasi campaign performa marketing bisnis.